Thursday, 26 September 2019

jenis jenis motivasi seseorang


Motivasi dapat dibedakan berdasarkan jenis -jenisnya. Ada jenis motivasi yang terjadi karena keinginan seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu. Jenis motivasi lain yaitu motivasi yang yang terjadi karena seseorang tersebut ingin mengejar target yang telah ditentukan agar berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Biggs dan Telfer dalam Sugihartono, dkk  ( 2007: 78) menjelaskan jenis-jenis motivasi belajar dapat dibedakan menjadi empat macam, antara lain:
1.      Motivasi instrumental
2.      Motivasi sosial, peserta didik belajar untuk penyelenggarakan tugas;
3.      Motivasi berprestasi
4.       Motivasi instrinsik.
Motivasi Instrumental merupakan dorongan yang membuat serta didik belajar karena ingin mendapatkan hadiah. Motivasi social menjadikan peserta didik lebih terlibat dalam tugas. Peserta didik belajar untuk meraih keberhasilan yang telah ditentukan,
Ngalim Purwanto ( 2003: 72)  menyebutkan bahwa motivasi mengandung tiga komponen pokok:
a.       Menggerakan
b.      Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku
c.       Menopang dan menjaga tingkah laku.
Berdasarkan komponen diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar memiliki beberapa jenis dan juga mengangandung komponen, antara lain menggerakkan, mengarahkan, dan menopang atau menjaga tingkah laku. Pada dasarnya motivasi itu dapat muncul dari diri sendiri maupun dari orang lain, sehingga para siswa mampu meningkatkan motivasi belajarnya bisa karena dirinya sendiri maupun dari orang lain

Friday, 30 August 2019

pengertian motivasi menurut para ahli


Istilah motivasi berasal dari kata Latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mengarahkan daya dan potensi agar bekerja mencapai tujuan yang ditentukan (Hasibuan: 2006-141).
Motivasi (motivation) adalah keinginan dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut bertindak. Orang biasanya bertindak karena suatu alasan untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, motivasi adalah sebuah dorongan yang diatur oleh tujuan dan jarang muncul dalam kekosongan. Kata-kata kebutuhan, keinginan, hasrat, dan dorongan, semuanya serupa denga n motif, yang merupakan asal dari kata motivasi (Malthis dan Jackson, 2009: 114-115).
Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam menghadapi situasi kerja diperusahaan (situation). Motivasi merupakan kondisi atau energi yang menggerakkan dii karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan(Mangkunegara, 2005:61).
Istilah motivasi, dalam kehidupam sehari-hari memiliki pengertian yang beragam baik yang berhubungan dengan perilaku individu maupun perilaku organisasi. Namun apapun pengertiannya, motivasi merupakan unsur penting dalam diri manusia yang berperan dalam mewujudkan keberhasilan dalam usaha maupun pekerjaan manusia. Dasar pelaksanaan motivasi oleh seorang pimpinan adalah pengetahuan dan perhatian terhadap perilaku manusian yang dipimpinnya sebagai suatu faktor penentu keberhasilan organisasi.
Menurut Sutrisno (2011: 109) Motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktifitas tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang.
Menurut Effendi yang dikutip oleh Manullang (2004:193) mengemukakan bahwa Motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan pada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki. Jadi motivasi berarti membangkitkan seseorang atau diri sendiri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai suatu kepuasan dan tujuan.
Sedangkan menurut Munandar (2008: 323) motivasi adalah suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkain kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu.

Thursday, 11 July 2019

apa itu angket menurut para ahli

Angket atau kuesioner merupakan instrumen penelitian yang berupa daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah respoden ( sumber yang diambil datanya melalui angket ), ada beberapa pengertian kuesioner yang diungkapkan oleh para ahli, antara lain

1.   Menurut kusumah (2011;78) angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang di berikan kepada subjek yang di teliti untuk mengumpulkan informasi yang di butuhkan peneliti. Angket ada 2 macam yaitu angket berstruktur dan angket tidak berstrukturatau terbuka.

2.  Menurut Suharsimi Arikunto, Kuesioner/angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna.

3.   Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan secara tertulis kepada responden untuk dijawabnya. (Sugiyono, 2005:162).

4.      Menurut walgito (199;35-37) angket adalah metode pengumpulan data penelitian denan menggunakan daptar pertanyaan yang harus di jawab oleh responden. Bentuk angketnya dapat di bedakan menjadi tiga yaitu angket tertutup, angket terbuka, dan angket tertutup-terbuka. Angket tertutup merupakan angket yang menyediakan alternative jawaban atas pertanyaan yang di berikan sehingga responden tidak mempunyai kebebaasan untuk memjawab pertanyaan di luar alternatifjawaban yang di sediakan adalam angket tersebut. Angket terbuka adalah angket yang tidak menyediakan jawaban atas pertanyaan yang di berikan, sehingga responden mepunyaikebebasan memberikan jawaban. Angket tertutup-terbuka merupakan kombinaasi dari angket tertutup dan angket terbuka.

Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberikan tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna.

Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.

Dengan demikian angket/kuesioner adalah daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti dimana tiap pertanyaannya berkaitan dengan masalah penelitian. Angket tersebut pada akhirnya diberikan kepada responden untuk dimintakan jawaban.

Dengan menggunakan kuesioner, analisis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.

Sugiyono (2005:157) juga mengemukakan pendapat Sutrisno Hadi yang mengatakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh penelitian dalam menggunakan metode interview dan juga kuesioner adalah sebagai berikut:
  1. Bahwa subyek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri
  2. Bahwa apa yang dinyatakan oleh subyek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya
  3. Bahwa interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan uang diajukan peneliti kepadanya adalah sama seperti yang dimaksud oleh peneliti

Penggunaan kuesioner tepat bila :
  1. Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan.
  2. Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu fitur khusu dari sistem yang diajukan.
  3. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk-petunjuk tertentu.
  4. Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.
Menurut Suharsimi Arikunto, keuntungan menggunakan angket antara lain:
  1. Tidak memerlukan hadirnya peneliti
  2. Dapat diberikan secara serempak kepada banyak responden
  3. Dijawab oleh responden menurut kecepatan masing-masing dan menurut waktu senggang responden
  4. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas, jujur, dan tidak malu-malu menjawab
  5. Dapat dibuat berstandar sehingga semua responden dapat diberi



Sunday, 23 June 2019

apa itu ilmu pegetahuan


Ilmu pengetahuan ialah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan runtut melalui metode ilmiah. Metode ilmiah atau disebut juga metode penelitian adalah prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan. Langkah-langkah sistematis tersebut meliputi:
a.       Mengidentifikasi dan Merumuskan masalah,
b.      Menyusun kerangka Pemikiran
c.       Merumuskan Hipotesis
d.      Menguji hipotesis, dan
e.       Menarik kesimpulan
Dengan kata lain, metode ilmiah adalah cara memperoleh dan menyususun pengetahuan. Beda Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan terletak pada: “Pengetahuan” adalah bahan ilmu, dan baru bisa menjawab tentang apa, sedangkan “Ilmu Pengetahuan” menjawab tentang mengapa suatu kenyataan atau kejadian”. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan sekumpulan pengetahuan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis, menggunakan metode keilmuan, dapat dipelajari dan diajarkan, dan memiliki nilai guna tertentu.Syarat ilmu pengetahuan adalah memiliki objek dan metode ilmiah, atau memiliki dimensi/aspek sebagai berikut:

a.       Aspek Ontologis, yaitu berkenaan dengan apa yang dipelajari ilmu atau berkenaan dengan objek studi. Aspek ontologis berkenaan dengan apa yang ingin diketahui, apa yang dipikirkan atau yang menjadi masalah. Contoh : Aspek ontologis dalam ilmu ekonomi adalah perilaku manusia yang dihadapkan pada persoalan sumber daya manusia yang terbatas, dengan kebutuhan yang tidak terbatas.
b.      Aspek Epistimologis, berkenaan dengan bagaimana ilmu mempelajari objek studinya dengan menggunakan metode tertentu, yaitu metode keilmuan atau metode ilmiah yang didukung oleh saranaberfikir ilmiah. Metode ilmiah pada dasarnya merupakan gabungan antara pola berpikir induktif (dari hal-hal yang khusus, dianalisis menjadi hal-hal yang umum) dan pola berpikir deduktif . (dari hal-hal yang umum kepda hal-hal yang khusus). Pola berpikir induktif dandeduktif disebut juga proses “ Logico-hypotetico-verifikatif atau “deducto-hypotetico-verifikatif”, yang terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) Merumuskan masalah, (2) Menyusun kerangka berfikir (3) Merumuskan hipotesis, (4) Menguji hipotesis, dan (5) Menarik kesimpulan.
c.       Aspek aksiologis , berkenaan dengan aspek gunalaksana atau manfaat ilmu. Nilai guna ilmu bisa dilihat secara positif dan normatif. Secara positif nilai guna ilmu adalah untuk mendeskripsikan, menjelaskan dan memprediksi berbagai fenomena yang sesuai dengan objek studi yang dipelajari. Sedangkan secara normatif, nilai guna ilmu adalah untuk mengendalikan berbagai fenomena kearah yang dinginkan. Secara normatif aspek aksiologis ilmu erat kaitannya dengan pertimbangan nilai, etika dan moral. Dalam penelitian aspek aksilogis digambarkan dalam saran-saraan atau rekomendasi hasil penelitian.


Secaran garis besar, ilmu pengetahuan terbentuk melalui proses dan tahapan sebagai berikut:

a.       Ilmu mempelajari fenomena.
b.      Fenomena-fenomena itu diabstraksikan menjadi konsep dan variabel.
c.     Konsep dan variabel itu dipelajari hubungannya berberntuk proporsi yang sifatnya berbentuk hipotesis-hipotesis.
d.      Hipotesis diuji secara empirik menjadi fakta.
e.  Jalinan fakta-fakta dalam kerangka penuh arti membentuk teori. Teori-teori nilah yang merupakan ilmu.

Di atas telah dijelaskan, bahwa pokok masalah keilmuan adalah meliputi aspek ontologi, aspek epistimologi, dan aspek aksiologis. Kegiatan ilmiah diawali dengan perumusan masalah dan  dan penyusunan kerangka berfikir yang didalamnya termasuk logika dan matematika yang kemudian menghasilkan khasanah pengetahuan ilmiah (di dalamnya termasuk teori dan hasil penelitian empiris). Dari kerangka berpikir tersebut, timbulah hipotesis untuk diuji dengan menggunakan data, analisis, teknik pengujian (statistik) dan dibuat kesimpulan statistis. Jika hipotesis tersebut diterima, maka akan menjadi khasanah pengetahuan ilmiah dan apabila ditolak akan kembali lagi kepada penyususnan kerangka berfikir untuk diulang lagi kehipotesis sampai kesimpulan akhirnya diterima.


Saturday, 15 June 2019

Pengukuran Sikap



Secara ilmiah sikap dapat diukur, dimana sikap terhadap objek diterjemahkan dalam sistem angka
Dua metode pengukuran sikap:
1. Metode Self Report
a.       Misalnya ketika menyatakan kesukaan terhadap objek saat ditanya dalam interview atau menuliskan evalusi-evalusi dari suatu kuesioner
b.      dalam metode ini, jawaban yang diberikan dapat dijadikan idikator sikap seseorang
c.       Kelemahan: jika individu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan maka tidak dapat diketahui pendapat atau sikapnya.
Self Report terdiri dari:
a. Public Opinion Polling
ü  Digunakan untuk mengumpulkan data dari masyarakat yang berkaitan dengan opini.
ü  Digunakan untuk meramalkan sesuatu atau menyediakan informasi, misalnya:
·         Pro dan kontra aborsi
·         Pembelian suatu produk (representatif)
ü  Empat langkah polling:
a)   Seleksi terhadap sampel dari responden
b)   Menyusun item-item sikap
c)   Mengambil data terhadap sampel
d)   Tabulasi data

ü  Dalam pengukuran Public Opini Polling, item skala terdiri dari:
- Pertanyaan-pertanyaan tentang objek
- Format jawaban: tertutup (setuju – tidak setuju) dan terbuka
   Misalnya:
   Aborsi tidak dilarang agama (pertanyaan tertutup):
(...) sangat setuju
(...) setuju
( v) tidak tahu
(...) tidak setuju
(...) sangat tidak setuju           

                            Saya lebih suka membeli tabloid (pertanyaan terbuka):
a. Olahraga
b. Wanita
c. Gosip
d. Film
e. Lain-lain, sebutkan ............

b. Skala Sikap
ü Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap
ü Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang
ü Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama
ü Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek
ü Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis).

2. Pengukuran Involuntary Behavior
Pengukuran Involuntary Behavior (Pengukuran terselubung)
ü  Pengukuran dapat dilakukan jika memang diinginkan atau dapat dilakukan oleh responden
ü  Dalam banyak situasi, akurasi pengukuran sikap dipengaruhi oleh kerelaan responden
ü  Pendekatan ini merupakan pendekatan observasi terhadap reaksi-reaksi fisiologis yang terjadi tanpa disadari dilakukan oleh individu yang bersangkutan.
ü  Observer dapat menginterpretasikan sikap individu mulai dari fasial reaction, voice tones, body gesture, keringat, dilatasi pupil mata, detak jantung, dan beberapa aspek fisiologis lainnya.



JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN


Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu :
1)         Media Hasil Teknologi Cetak
Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil teknologi cetak meliputi teks, grafik, foto atau representasi fotografik dan reproduksi.
Teknologi cetak memiliki ciri-ciri berikut :
Ø  Teks dibaca secara linier, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang;
Ø  Baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif;
Ø  Teks dan visua ditampilkan statis (diam);
Ø  Pengembangannya sangat tergantung kepada prinsip-prinsip kebahasaan dan persepsi visual;
Ø  Baik teks maupun visual berorientasi (berpusat) pada siswa;
Ø  Informasi dapat diatur kembali atau ditata ulang oleh pemakai.
2)            Media Hasil Teknologi Audio-visual
Teknologi audio-visual cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Pengajaran melalui media audio-visual jelas bercirikan pemakaian perangkat keras selama proses belajar, seperti mesin proyektor film, tape recorder, dan proyektor visual yang lebar. Jadi, pengajaran melalui audio-visual adalah produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung kepada pemahaman kata atau simbol-simbol yang serupa.
Ciri-ciri utama teknologi media audio-visual adalah sebagai berikut :
Ø  Mereka biasanya bersifat linear;
Ø  Mereka biasanya menyajikan visual yang dinamis;
Ø  Mereka digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang/pembuatanya;
Ø  Mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak;
Ø  Mereka dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme dan kognitif;
Ø  Umumnya mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang rendah.
3)            Media Hasil Teknologi yang Berdasarkan Komputer
Teknologi berbasis Komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor. Perbedaan antara media yang dihasilkan oleh teknologi berbasis komputer dengan yang dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah karena informasi/materi disimpan dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan atau visual.
Beberapa ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) adalag sebagai berikut:
Ø  Mereka dapat digunakan secara acak, non-sekuensial, atau secara linear;
Ø  Mereka dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinganan perancang/pengembang sebagaimana direncanakannya;
Ø  Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol, dan grafik;
Ø  Prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini;
Ø  Pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.
4)         Media Hasil Gabungan Teknologi Cetak dan Komputer
Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh komputer.
Beberapa ciri utama teknologi gabungan adalah:
Ø  Ia dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear;
Ø  Ia dapat diguanakan sesuai dengan keinginan siswa bukan saja dengan cara yang direncanakan dan diinginkan oleh perancangnya;
Ø  Gagasan-gagasan sering disajikan secara realistic dalam konteks pengalaman siswa, menurut apa yang relevan dengan siswa, dan di bawah pengendalian siswa;
Ø  Prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan penggunaan pelajaran;
Ø  Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan dikuasai jika pelajaran itu digunakan;
Ø  Bahan-bahan pelajaran melibatkan banyak interaktivitas siswa;
Ø  Bahan-bahan pelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.


Wednesday, 19 December 2018

Jenis-jenis Pendekatan Belajar


Berbagai strategi pembelajaran yang memenuhi kriteria untuk kurikulum KBK menurut Nurhadi (2004:103) adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (Contekxtual Teaching and Learning – CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Berdasarkan pendekatan kontekstul (CTL) proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar,apa manfaatnya, mereka dalam status apa, dan bagaimana mencapainya. mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya.
2. Pendekatan Berbasis Masalah
Pendekatan berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esencial dari materi pembelajaran. Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingakat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk belajar bagaimana belajar.
Pendekatan berbasis masalah memiliki ciri yaitu:
a.       Pengajuan pertanyaan masalah
b.      Terintegrasi dengan disiplin ilmu pengetahuan lain
c.       Penyelidikan otentik
d.      Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya.
3. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokkus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Ada empat metode yang identik dengan pembelajaran kooperatif yaitu metode STAD, metode Jigsaw, metode GI (Group Invertigation) dan metode Struktural.
4. Pengajaran Berbasis Inkuiri
Pengajaran dengan penemuan (Inquiri) merupak satu pilar penting dalam pendekatan kontruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau pembaharuan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan /inkuiri siswa didorong untuk belajar sebagian besar melakukan keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dan guru mendorong siswa unuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri.
5. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas
Pengajaran berbasis proyek/tugas membutuhkan pendekatan pengajaran konprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah otentik termasuk pengalaman materi suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam membentuk pembelajarannya dan memunculkannya dalam produk nyata.
6. Pengajaran berbasis Kerja
Pengajaran berbasis kerja (Work Based Learning) memerlukan pendekatan pengajaran yang memungkinakan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja. Jadi tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
7. CBSA
Didalam proses belajar mengajar CBSA merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan anak didik mengalami keterlibatan inteletual emosional serta fisik. Dilihat dari sudut pandang anak (subjek didik) maka CBSA merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan dalam belajar. Ditinjau dari sudut pandang guru bahwa CBSA merupakan suatu strategi belajar yang menuntut aktivitas dari subjek didik yang belajar. Dengan demikian maka proses belajar mengajar dimana subjek didik terlibat intelektual emosionalnya dapat diprogramkan dan dirancang dalam pencapaian tujuan. Proses belajar mengajar yang lebih menekankan aktivitas peserta didik seperti tersirat dalam konsep CBSA menempatkan subjek didik sebagai pusat dalam kegiatan belajar
8. Pengajaran Berbasis Melayani
Pengajaran berbasis melayani (service learning) memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan melayani masyarakat suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan melayani. Jadi menekankan hubungan antara pengalaman melayani dan pembelajaran akademis



Pengertian Pendekatan Belajar



1. Pengertian pendekatan belajar

Menurut Suherman (2002:70) ketika orang akan mengerjakan sesuatu, maka orang tersebut mestinya menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Untuk sasaran yang hendak dicapai seseorang memilih pendekatan yang tepat sehingga diperoleh hasil yang optimal, berhasil guna dan tepat guna, Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Menurut Nisbet (1985) bahwa tidak ada cara belajar (tunggal) yang paling benar, dan cara mengajar yang paling baik, orang-orang berada dalam kemampuan intelektual, sikap dan kepribadian sehingga mereka mengabsorbsi pendekatan-pendekatan yang karekteristiknya berbeda untuk belajar. Dari sini dapat dikaitkan bahwa masing-masing individu akan memilih gaya dan cara sendiri untuk belajar dan untuk mengajar, namun setidak-tidaknya ada karekteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain.
Kemudian berubahnya sistem pengajaran dengan pemakaian kurikulum maka pendekatan pembelajaran yang digunakan berbeda pula. Menurut Nurhadi ada 7 ciri-ciri pendekatan dan strategi, yaitu:
a. Menekankan pada pemecahan masalah
b. Bisa dijalankan dalam berbagai konteks pembelajaran
c. Mengarahkan siswa menjadi pembelajar mandiri
d. Mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda
e. Mendorong terciptanya masyarakat belajar
 f. Menerapkan penilaian otentik
g. Menyenangkan

2. Strategi pembelajaran 

Berbagai strategi pembelajaran yang memenuhi kriteria untuk kurikulum KBK menurut Nurhadi (2004:103) adalah sebagai berikut:

1. Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual (Contekxtual Teaching and Learning – CTL) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Berdasarkan pendekatan kontekstul (CTL) proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar,apa manfaatnya, mereka dalam status apa, dan bagaimana mencapainya. mereka akan menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya.

2. Pendekatan Berbasis Masalah

Pendekatan berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esencial dari materi pembelajaran. Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingakat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk belajar bagaimana belajar.
Pendekatan berbasis masalah memiliki ciri yaitu:
    a.  Pengajuan pertanyaan masalah
    b. Terintegrasi dengan disiplin ilmu pengetahuan lain
    c.  Penyelidikan otentik
    d.  Menghasilkan produk/ karya dan memamerkannya.

3. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (Cooperatif Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokkus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Ada empat metode yang identik dengan pembelajaran kooperatif yaitu metode STAD, metode Jigsaw, metode GI (Group Invertigation) dan metode Struktural.

4. Pengajaran Berbasis Inkuiri

Pengajaran dengan penemuan (Inquiri) merupak satu pilar penting dalam pendekatan kontruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau pembaharuan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan /inkuiri siswa didorong untuk belajar sebagian besar melakukan keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dan guru mendorong siswa unuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip untuk mereka sendiri.

5. Pengajaran Berbasis Proyek/Tugas

Pengajaran berbasis proyek/tugas membutuhkan pendekatan pengajaran konprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah-masalah otentik termasuk pengalaman materi suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam membentuk pembelajarannya dan memunculkannya dalam produk nyata.

6. Pengajaran berbasis Kerja

Pengajaran berbasis kerja (Work Based Learning) memerlukan pendekatan pengajaran yang memungkinakan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja. Jadi tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.

7. CBSA

Didalam proses belajar mengajar CBSA merupakan suatu proses kegiatan yang memungkinkan anak didik mengalami keterlibatan inteletual emosional serta fisik. Dilihat dari sudut pandang anak (subjek didik) maka CBSA merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan dalam belajar. Ditinjau dari sudut pandang guru bahwa CBSA merupakan suatu strategi belajar yang menuntut aktivitas dari subjek didik yang belajar. Dengan demikian maka proses belajar mengajar dimana subjek didik terlibat intelektual emosionalnya dapat diprogramkan dan dirancang dalam pencapaian tujuan. Proses belajar mengajar yang lebih menekankan aktivitas peserta didik seperti tersirat dalam konsep CBSA menempatkan subjek didik sebagai pusat dalam kegiatan belajar

8. Pengajaran Berbasis Melayani

Pengajaran berbasis melayani (service learning) memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan melayani masyarakat suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan melayani. Jadi menekankan hubungan antara pengalaman melayani dan pembelajaran akademis



Operasionalisasi Variabel penelitian

1. Variabel dan hubungan Antar Variabel Variabel adalah karakteristik yang bisa diduplikasikan ke dalam sekurang-kurangnya dua klasifikasi a...